Inti dari Sebuah Kurikulum adalah Kebahagiaan

Tulisan ini dari blog embun petak danum – Desember 2014 silam

Oleh Rizqi Tajuddin

Kita semua tahu, akhirnya Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof Anies Baswedan menghentikan perjalanan Kurikulum 2013 pekan lalu. Pekan ini surat ke guru-guru di seluruh Indonesia mungkin akan disebarkan.
Secara pribadi, saya setuju dengan kebijakan Prof Anies ini. Sejak lama saya ikut teriak-teriak tentang kebijakan kurikulum 2013 ini, bahkan saya memutuskan tidak ikut beli buku kurtilas, selain banyak masalah di buku tersebut dan kurikulum juga karena sudah adanya buku pdf-nya, mengapa buang-buanh duit jika sudah ada pdfnya dan ternyata kurikulum dan bukunya gak nyambung. Buang-buang anggaran saja.

Tapi saya tidak ingin banyak terlibat pada pro kontra tentang kurikulum ini.Di tulisan ini, saya ingin mengungkapkan rasa saya, pikiran saya, dan pengalaman saya bagaimana seharusnya kurikulum itu, tentu menurut persepsi saya. Saya tak ingin memaksakan apalagi mendikte apa yang harus dilakukan. Inti dari sebuah kurikulum dibuat seharusnya adalah kebahagiaan. Karena esensi dari kehidupan adalah kebahagiaan. Maka, kurikulum harusnya dibuat ke arah sana, ke arah bagaimana pengguna kurikulum merasa bahagia dengan apa yang dilakukan. Jika ternyata sebaliknya, maka sebaiknya kurikulum itu direvisi atau bahkan dihentikan penggunaannya.

Kurikulum jika targetnya adalah kebahagiaan, maka harusnya kurikulum itu menjadikan anak seutuhnya bukan hanya dilihat dari aspek akademis saja. Maka dari itu, penting bagi guru untuk memahami tahapan perkembangan anak atau ilmu anak (paedagogik). Anak-anak akan merasa bahagia jika apa yang diberikan sesuai dengan tahapan perkembangannya. Misal, anak yang dalam tahap merangkak akan bahagia jika orang tuanya memberi tantangan mengambil sesuatu dengan cara merangkak. Anak akan menjadi depresi jika ternyata ayah bundanya punya ekspektasi lebih, misa ingin dirinya berlari. Bisa jadi anak dengan tahapan ini, ternyata melebihi umur secara rata-rata anak yang harusnya bisa merangkak. Oleh karena itu, penting bagi guru untuk tidak menyamakan capaian masing-masing anak.

Ketika guru sudah tahu dengan baik tahapan perkembangan anak, maka yang dievaluasi guru bukan matematika dan sains saja tapi lebih dari itu, guru dapat mengevaluasi pertumbuhan seutuhnya dengan proses yang penuh makna, berkelanjutan dan penuh makna. Misal ketika anak belum bisa menulis, guru tak hanya mengajari menulis saja, tapi guru akan melihat bagaimana kekuatan otot bahunya, siku hingga masalah motorik halusnya.

Maka dari itu, kurikulum yang fleksible, yang sesuai dengan tahapan perkembangan anak, yang sesuai dengan lingkungan sekitar anak, yang memberikan pilihan yang bermakna bagi siswa adalah sebuah kemutlakan dalam sebuah institutsi pendidikan. Anak-anak harusnya tidak dijauhkan dari lingkungannya. Mereka menggunakan manfaat ilmu yang diperolehnya untuk perubahan di lingkungannya. Anak-anak di Kalimantan harusnya belajar lebih banyak bagiaman bersikap ramah pada sungai, gambut dan hutan. Maka, pembelajaran anak-anak Kalimantan sangatlah kurang pas jika disamakan dengan anak-anak Singapura yang jarang bersentuhan dengan ketiga hal tersebut.

Kurikulum harusnya bersifat sistem, bukan hanya berisi materi-materi ataupun metode-metode. Bisa jadi, materi kurikulum bagus, metodena bagus tapi ternyata ada sistem di luar yang mereusak kurikulum itu. Apa misalnya ? Anak-anak berkembang sesuai dengan masa lalunya, masa di kandungannya, pola asuh orang tuanya, pola asuh di lingkungannya, maka seharusnya mereka dibandingkan dengan perkembangan dirinya bukan dengan perkembangan orang lain atau temannya. Mereka adalah makhluk yang unik. Satu sama lain adalah nyata berbeda, bahkan anak kembar identikpun memiliki perbedaan, minimal pada sidik jarinya. Sistem dalam kurikulum harusnya memfasilitasi ini. Bukan merusaknya dengan tes-tes standar yang cenderung kaku dan tak fleksibel, atau dengan membandingkan prestasi anak satu dengan anak lainya (bisa berupa ranking kelas atau lainnya).

Dari beberapa negara yang maju dan bahagia anak-anaknya, pendidikan tak bisa lepas dari aspek yang multidimensi. Mulai dari hulu yaitu pendidikan keluarga hingga kebijakan politik yang mendukung. Negara yang baik juga tak mengabaikan kurikulum yang sesuai dengan perkembangan anak di usia dini , bahkan konsentrasi pada pendidikan usia dini sangat perlu diperhatikan. Karena penanaman karakter yang baik adalah pada usia dini. Di Indonesia malah usia dini sudah dijejalkan dengan akademis yang memberatkan. 

Dan di akhir tulisan ini saya ingin tambahkan bahwa olah seni, olah rasa, olah bahasa dan olah raga adalah satu kesatuan dalam pendidikan. Semuanya adalah hal penting yang harusnya tak dilupakan dalam kebijakan pendidikan di tingkat manapun. Negara hingga rumah tangga. Anak akan menjadi hambar jika tak pernah mengolah rasa dan bahasanya. Mereka jadi lemah jika raganya tak pernah diolah.

Dan jika negara punya kewajiban untuk membuat kebijakan, maka sekolah dan keluarga punya kewajiban untuk bagaimana memahami ilmu jiwa anak, memperbaiki pengasuhan di keluarga dan sekolah serta mendidik anak dengan adab yang sesuai dengan nilai-nilai luhur.
Kurikulum itu penting, dan yang lebih penting adalah membuat kurikulum yang membahagiakan.

tulisan ini terinsipirasi dari buku
– Ki Hajar Dewantara Jilid I (pendidikan)
– The best school (thomas Armstrhong)
dan diskusi2 di Fb IGI (meski saya bukan anggota IGI :D)

Inti dari Sebuah Kurikulum adalah Kebahagiaan

Leave a Reply

Your email address will not be published.