Aksesoris dan Esensi, Evaluasi Indonesia Pasca Covid19

Menggemaskan memang, melihat banyak masyarakat dengan mudahnya melanggar protokol PSBB. Dengan mudah berkerumun di pasar untuk membeli baju lebaran, memaksakan shalat ied dan cipaka-cipiki di lapangan tanpa memperhatikan protokol lagi. Alasannya cuma satu. Gak enak, gak biasa. Merasa tidak nyaman karena memang biasanya jika lebaran akan membeli baju, akan pulang kampung. Tentang shalat berjamaah di masjid atau di lapangan, seenarnya juga sudah banyak ulama yang melarangnya dengan tegas. Dari yang moderat, hingga yang konservatif. Dari yang aswaja, hingga salafy. Semua sama pendapatnya.

Sebenarnya, ini tidak mengagetkan, dan sudah banyak yang memprediksi ini. Bahwa masyarakat akan banyak melanggar. Terlepas tidak tegasnya pemerintah sebagai pengambil kebijakan, ada hal lain menurut saya yang bisa membuat kondisi ini seperti sekarang ini. Apa itu ? Pendidikan menurut saya. Saya akan kupas secara sederhana di bawah ini. 

Pendidikan di Indonesia sejak lama mengagungkan hal-hal yang berupa aksesoris, dibandingkan dengan yang esensi. Bukan berarti yang aksesoris itu gak penting, tapi kadang atau bahkan sering yang aksesoris itu menghambat terlaksanannya pendidikan karena ditunggu kehadirannya, padahal yang esesnsi sudah hadir. 

Saya beri contoh beberapa agar pembaca mudah memahaminya. Mengejar kurikulum itu bukanlah esensi, tapi mendidik anak sesuai dengan kemampuan dan passionnya adalah esensi pendidikan. Jadi, guru tidak perlu sibuk mengejar kurikulum, tapi fasilitasi potensi anak. Nah, sekarang bagaimana ? Sebaliknya bukan ? Contoh berikutnya. Seorang anak tidak mau ke sekolah karena sepatu hitamnya kotor karena terkena hujan semalam. Padahal anak ada kemauan untuk berangkat sekolah. Sepatu itu akseoris, dan menghambat esensi pendidikan yakni kemauan anak untuk belajar. Dalam banyak literatur, disebutkan bahwa sinergi adalah hal penting dalam mendidik anak, karena sinergi akan membuat anak lebih peduli, lebih berempati. Sedangkan kompetisi sebaliknya. Nah, sekarang, mana yang lebih sering kita jadikan fokus dalam pendidikan ? Kompetisi, atau sinergi ? 

Bayangkan, ini terjadi sejak kita TK hingga pendidikan lanjutan. Dan secara tidak sadar telah memborbardir otak kita, bahwa ini adalah hal benar. Dan tentu, kesalahan yang berulang kali dibenarkan, akan membuat kita merasa benar. Salah kaprah kata orang Jawa. Salah, tapi sudah biasa. Ya udah, dianggap benar aja. Banyak dari kita akhirnya, bingung memilih mana sih yang urgen, mana yang penting dan mana yang sama sekali tidak penting. Misal, pilih hape bukan dilihat apa kebutuhan kita pada hape itu, tapi hanya melihat speknya, dan akhirnya kita mau dan rela berhutang untuk membeli hape yang tidak sesuai dengan budget kita. Membeli kendaraan bukan dilihat apakaha sudah terpenuhi kebutuhan kita attau belum, tapi dilihat mana yang keren. 

Jika pendidikan ini tidak ada evaluasi dan dibiarkan terus menerus seperti ini, maka tidak perlu mengeluh dengan perilaku masyarakat yang memang akan kesulitan melihat mana yang urgen di kondisi seperti ini. Memilih cipaka-cipiki dan memaksa shalat tanpa protokol yang jelas, hanya karena, “Gak sreg lah kalo ada jarak”, “Gak lega kalau gak shalat ied di lapangan/masjid”, padahal syariat juga memberikan pelajaran bahwa nyawa adalah bagian paling penting yang perlu dihargai. Semoga, pengambil kebijakan dari level Menteri hingga guru di sekolah, bisa mulai berpikir, mana yang esensi, dan mana yang akseosris dalam pendidikan pasca pandemik ini berlalu. 

Penulis

Babah Aca

Sumber https://embunpetakdanum.blogspot.com/2020/05/102-aksesoris-dan-esensi-evaluasi.html

Aksesoris dan Esensi, Evaluasi Indonesia Pasca Covid19

Leave a Reply

Your email address will not be published.