SEBELUM ANDA MEMIMPIN

Zona nyaman menjadi zona paling berbahaya, karena bisa membuat kita enggan belajar. Organisasi yang terus bertumbuh selalu berupaya untuk menaikkan standar kebaikannya, dari waktu ke waktu.

Jika kita gelisah saat tidak ada lagi hal baru yang kita pelajari atau dapatkan, itu petunjuk bahwa kita berada di jalur yang tepat.
Andy Grove, Pendiri Intel dan legenda Silicon Valley -menasihatkan, “Only the paranoia survive…”, maksudnya jangan pernah berhenti memperbaiki diri. Apalagi dalam hal kapasitas kepemimpinan.

Apa pun strategi (bisnis) yang dipilih, kuncinya ada pada SDM. Karena merekalah yang mengeksekusinya. Pemimpin hebat selalu dimulai dari memimpin diri sendiri, memimpin tim, lalu memimpin organisasi secara keseluruhan. Jika berhasil memimpin diri dan tim, memimpin organisasi akan jadi lebih mudah.

Memimpin diri dimulai dengan mengerti hendak ke mana (titik B) dan dari mana (titik A).

Saat menentukan titik A, mungkin saja terjadi bias. Hal itu karena kita tidak mengenal siapa diri kita, kita jarang melakukan self-assessment.

Begitu kita jalani self-assessment dengan jujur, hasilnya dapat kita pakai untuk mencari dan mengetahui hal-hal yang perlu kita perbaiki atau tingkatkan. Bukannya sebagai cermin memuji-muji kehebatan diri. Narsis!

Dengan self-assessment, kita dapat mengenali value (nilai) diri, kemampuan dan keterampilan diri, serta prestasi diri: apa saja rencana-rencana yang sudah berhasil kita wujudkan.

Setelah membuat self-assessment, artinya kita punya titik A, posisi berangkat. Selanjutnya kita perlu memilih titik B (tujuan yang ingin dipenuhi), berdasarkan realita yang ada.

Jarak antara titik A dan titik B inilah yang menjadi “game” kita. Jika jarak A ke B dirasa terlalu jauh, kita bisa membuatnya dalam beberapa tahapan pencapaian (milestone). Begitu titik B sudah dicapai, maka prosesnya jangan dibiarkan berhenti. Buatlah titik B, baru.

Tantangan saat menentukan titik A, adalah menghindari sindrom sebagai jawara. Alias enggan menerima masukan, meski dari diri sendiri. Sementara saat menentukan titik B, yang sulit adalah membuat impian/tujuan yang selaras dengan realita.

Sekarang, Anda bisa membuat peta perjalanan diri, terdiri 3 bagian. (1) Siapa saya (value, kemampuan, prestasi), (2) Di mana saya sekarang, (3) Apa yang perlu saya tingkatkan.

Memimpin diri adalah sebuah perjalanan, tidak selalu mulus. Ada berbagai dinamika batin yang bisa terjadi: ada waktunya kita stress, frustasi, tidak punya akses untuk belajar, merasa tidak berdaya, dan lainnya. Sehingga, Anda perlu selalu siap dengan rencana cadangan. Di sepanjang perjalanan memimpin diri, Anda sangat butuh daya tahan. Kita perlu menyadari kelemahan kita, karenanya kita perlu bantuan orang lain.

Penting bagi Anda untuk berjalan bersama mitra terpercaya (mungkin mentor, coach, atau teman diskusi). Sebab, ia membantu Anda untuk melihat hal-hal yang mungkin Anda luput, terlewatkan, terabaikan selama proses Anda menjadi pemimpin.

Bersama mitra terpercaya, Anda dapat merencanakan hidup yang terarah, tertata. Agar pikiran, perasaan, dan perilaku Anda mengarah pada apa yang Anda inginkan terjadi.

Tanpa dijalani dengan rencana sekalipun, kehidupan terus berjalan. Tapi dengan bantuan mitra terpercaya, Anda dapat menjalani rencana dengan penuh komitmen. Karena mitra terpercaya membantu Anda untuk bisa menjalani hidup secara utuh. Sementara Anda tetap fokus pada tujuan, Anda masih dapat menikmati perjalanannya.

Anda sudah siap memulai perjalanan kepemimpinan?

SEBELUM ANDA MEMIMPIN

Leave a Reply

Your email address will not be published.