BELAJAR MENJADI NAHKODA

Titanic ditumpangi banyak orang kaya, makanan dan minuman berlimpah, hiburan pun tersedia. Dibuat oleh perusahaan kapal ternama dan dirancang oleh desainer ternama, dengan material utama, oleh banyak orang diyakini tidak akan bisa tenggelam. Tidak mungkin.

Tapi ternyata, Titanic tenggelam pada pelayarannya yang pertama.

Penyebabnya diduga karena dikemudikan dengan ceroboh. Sehingga tidak melihat ada gunung es yang sangat besar berada di jalur pelayarannya. Ketika sadar, semua manuvernya terlambat dan robeklah lambung kapal tercabik bongkahan es besar dan tajam.

Tapi ada versi lain, cerita penyebab tenggelamnya Titanic.

Bukan hanya karena gunung es, tapi karena ada api yang membakar bagian depan lambung kapal. Dan api itu tidak diketahui oleh nakhoda. Konon, api itu sudah ada bahkan sebelum Titanic berangkat berlayar.

Apa benar tidak ada yang melihat api itu?
Ada yang menduga sebenarnya ada yang melihatnya, tapi didiamkan. Hingga api terus berkobar dan melemahkan plat-plat baja kapal.

Dari cerita singkat ini, kita jadi mengerti bahwa siapa pun yang menjadi nahkoda, ia perlu memiliki dua keterampilan dasar. Pertama, mengerti apa yang sedang terjadi di dalam dan luar kapal. Dan kedua, mampu mengemudikan kapal dengan andal.

Agak mirip dengan tantangan kepemimpinan di lembaga pendidikan. Dari penelitian lapangan, Edupro menemukan 3 pertanyaan prioritas:

1) Apa yang menjadikan seseorang pemimpin yang baik?

2) Bagaimana peran seorang pemimpin membantu organisasi mencapai tujuan bersama?

3) Bagaimana peran saya sebagai pemimpin dapat menjadikan diri saya dan orang-orang di sekitar saya, bahagia?

Karena itulah, Edupro selenggarakan Human Centered Leadership (HCL).

Proses HCL bekerja dari dalam ke luar. Membenahi apa yang ada dalam diri. Membantu para pemimpin untuk menciptakan kemenangan pribadi dengan: mengenali diri sendiri, melakukan regulasi emosi, dan menyusun rencana dan tujuan hidup.

Karena ditemukan, “Setiap orang yang memiliki hutang pengasuhan bisa menjadi pemimpin yang hebat. Tapi di saat bersamaan, ia berpotensi menghancurkan dirinya dan/atau orang lain.”

Ketika seorang Leader mampu memimpin dirinya, ia setuju dan patuh pada keputusan yang ia buat. Selanjutnya, makin mudah bagi dirinya untuk menggerakkan sesama.

Sebab itu, HCL membekali para peserta dengan:
1) Pemahaman mendalam tentang kebutuhan dasar manusia
2) Pondasi dan tahapan memimpin manusia
3) Pengenalan yang jernih akan potensi diri dan orang lain

Dengan demikian, para Leader di lembaga pendidikan dapat berhasil menjalani kepemimpinannya dengan lebih bermakna dan berbahagia.

Anda tertarik belajar HCL?
Klik: https://eduproindonesia.id/human-centered-leadership/

BELAJAR MENJADI NAHKODA

Leave a Reply

Your email address will not be published.